Jumat, 22 Oktober 2021, WIB

Selasa, 06 Jul 2021, 10:21:41 WIB, 188 View Rahmat Maryuni, Kategori : Kelembagaan

Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Semarang,menggelar kuliah umum bertajuk Perkuat wawasan kebangsaan di era digital dengan mengundang pakar dari Polri, Rabu (30/6/2021).

Acara dibuka oleh Wakil Rektor II Dr Sudarman, SE,MM,AK,CA,CPA dengan pembicara Kanit Laboratorium Digital Forensik Dittipidsiber Bareksrim Polri, AKBP Fian Yunus SIK MTI dan Kepala Prodi S1 Sistem dan Teknologi Informasi, ITB Semarang Priyo Nugroho Adi S.T, M.Kom.

AKBP Fian Yunus mengatakan, seiring dengan perkembangan di bidang informasi dan teknologi (IT), kejahatan di dunia maya atau cyber crime tidak bisa dihindari menjadi ancaman. Untuk mencegahnya, agar tidak menjadi korban kejahatan di dunia maya, maka masyarakat diminta meminimalisir mengunggah data-data pribadi, termasuk foto-foto pribadi ke dunia maya.

‘’Jangan sampai kita meng-upload semuanya yang berbentuk privasi, sebab pencurian data di internet sangatlah mudah,’’ jelasnya.

Dia juga menyarankan agar masyarakat bisa mencari jalan yang aman dalam bertransaksi. ‘’Dalam bertransaksi, maka harus pandai-pandai memilah dan memilih platform. Hindari platform yang menawarkan penjualan online dari luar negeri.  Kejahatan di internet pelakunya, bisa dimana saja, artinya dalam negeri maupun luar negeri.  Di satu sisi, saat bertransaksi atau berkomunikasi di dunia maya, antara pelaku dan korban tidak bertemu, sehingga korban penipuan pun tidak bisa menujukkan pelaku,’’ jelasnya.

Diakui, jika tidak semua laporan yang menyangkut kasus kejatan yang menyangkut penipuan yang berkaitan dengan transaksi, yang terjadi di dunia maya diproses. Untuk kasus kerugian yang diproses yang di atas Rp 5 juta. Sebab, memang biaya yang dikeluarkan terkait piranti atau alat untuk melacak tidaklah murah.  ‘’Kejahatan di dunia maya ibarat fenomena  gunung es antara yang dilaporkan dan tidak, lebih banyak yang tidak,’’ jelasnya.

‘’Alat operasionalnya untuk melacaknya pun mahal. Begitu juga pelacaka, tidak bisa  satu hari dua hari. Maka pengguna internet harus punya kewaspadaan tinggi, agar tidak jadi korban,’’ tandasnya lagi.

Di satu sisi, dia juga mengingatkan mahasiswa, agar sopan dalam menggunakan media sosial. Termasuk saat memberi kritikan pada pemerintah, harus dengan kata yang sopan dan disertai data-data penyerta. Pasalnya, ada UU ITE yang bisa menjerat pelaku pencemaran nama baik.

‘’Bagaimana kita harus bijak menggunakan media sosial, kembali ke hati nurani saudara. Jangan mengungkap keburukan orang lain termasak dalam mengkritik pemerintah, harus dengan bahasa yang baik dan data yang lengkap. Hasil kritikan saudara bisa diperhatikan, nantinya,’’ jelasnya.

Sementara itu, Priyo Adi juga mengatakan, jika dalam menggunakan media sosial haruslah bijak dan pandai memilah. Termasuk jangan sampai mudah terkecoh dengan iming-iming seperti usaha, dengan laba banyak.

Dia juga mengingatkan agar mahasiswa jangan ceroboh memberikan data-data pribadi di internet tanpa tujuan yang jelas. Sebab, terkait dengan kebocoran data, tidak menutup kemungkinan bisa dijadikan bisnis oleh oknum, dengan menjualnya. ‘’Meskipun hanya data pribadi, di era digital seperti ini bisa dijadikan tindak kejahatan,’’ jelasnya. She





Tuliskan Komentar